Showing posts with label 3 stars. Show all posts
Showing posts with label 3 stars. Show all posts

Tuesday, May 27, 2014

Tabula Rasa - Kristen Lippert-Martin


Lippert-Martin, Kristen. 2014. Tabula Rasa. New York: Egmont USA.
Rating 3,5 bintang
(review in English, click here)

Tabula Rasa

Saya menerima buku ini melalui NetGalley, buku ini direncanakan akan terbit pada September 2014.

Pertama saya lihat buku ini di rak buku salah satu teman di Goodreads. Sampulnya keren, dan saya tertarik sekali setelah baca ringkasan bukunya. Katanya ini layaknya The Bourne Identity ketemu Divergent. Saya sih belum baca Divergent, tapi dinilai dari popularitasnya yang tinggi, kayaknya itu novel boleh juga. Dan tentu saja, saya penggemar berat The Bourne Identity, maka saya pun makin penasaran jadinya. Terus ternyata ini tentang perempuan yang semacam hilang ingatan begitu (selera saya banget, cuy). Kesimpulannya:

MAU MAU MAU! Kasiin ke gueee!
Dan saya coba minta ARC-nya (advance reader copy) ke NetGalley, walaupun penerbitnya bilang mereka cuma mengutamakan permintaan pembaca dari Amerika Serikat dan Kanada, saya tetap saja mengajukan permintaan ARC-nya, saya sudah kepingin banget! Dan saya pun dikasih ARC-nya. Reaksi saya:


Tabula Rasa - Kristen Lippert-Martin

Lippert-Martin, Kristen. 2014. Tabula Rasa. New York: Egmont USA.

I received this book via NetGalley, it is expected to be published in September 2014.

I first noticed about this book when I saw it in a shelf of a Goodreads fellow. The cover looks cool, and I became very interested when I read the blurb. It says, this book is The Bourne Identity meets Divergent. Well, I haven’t read Divergent yet, but judging from the hype so far, looks like it’s a pretty decent read. And of course, I was AND am a huge fan of The Bourne series, so I was instantly curious about this one. Further reading the blurb, this book is about a girl who lost her memories (my favorite kind of story!). In a nutshell:

Gimme da book! Me WANT!
So, I requested its ARC (advance reader copy) via NetGalley. Although the publisher notes that they are preferred members from US and Canada only, I couldn’t help but just tried my luck, I was really eager to be able reading this! Then, I got the book and I totally did this,


Wednesday, December 4, 2013

Nightmare Hour – R. L. Stine


Stine, R. L. 2003. Saat-saat Seram. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Nightmare Hour: Saat-saat Seram
Why I read this book in the first place?
I got up one day and decided to read this book because I wanted to participate in Blogger Buku Indonesia (BBI) monthly event, posting bareng (members post reviews in the same day). For November, the themes were Graphic and Horror. For Graphic, I’ve already posted review of Generasi 90an by Marchella FP, but I only reviewed it in Indonesian. And Nightmare Hour by R. L. Stine is my entry for Horror, obviously. To see Indonesian review for this, here.

FINALLY, after kept it for ten years in my shelf, unread, I managed to finish this book. I don’t know, I’m not a fan of horror anymore I guess. While back then, when I’m 13 or so, I was an official member of Goosebumps fans club. I occasionally received swag from them, sent to my house. Various kind of it, but the most EPIC from them all would be a human-sized poster of a skeleton sits menacingly calm in front of cupboard full of books, having a cup of tea, and IT GLOWS IN THE DARK! Like I said, epic. So, buying Nightmare Hour at that time was only normal for me. But, there’s a reason why I was hesitant to read it until this long....

Friday, November 29, 2013

Saat-saat Seram – R. L. Stine


Stine, R. L. 2003. Saat-saat Seram. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Rating 3,5 bintang
(review in English, click here)

Nightmare Hour: Saat-saat Seram

Kenapa saya baca buku ini?
Saya baca buku ini supaya bisa ikut posting bareng BBI bulan November yang temanya Horor, seperti yang sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya tentang even bulanan ini. Buku ini sudah lamaaaa sekali saya punyai dan tidak juga kunjung saya baca. Sudah sekitar sepuluh tahun dan saya masih belum tertarik (dan berani) baca buku ini, sampai bulan ini akhirnya terbaca juga, dengan agak terpaksa. Saya yang sekarang merasa enggak terlalu suka genre horor, dan saat baca buku ini, yah, saya masih belum berubah pikiran. Padahal saya yang dulu penggemar Goosebumps lho, bahkan sampai bergabung ke fans club-nya segala! Sering dapat swag yang dikirimkan ke rumah, dan yang paling EPIK dari semua swag yang saya dapat adalah poster seukuran badan yang gambarnya tengkorak lagi duduk minum teh di depan lemari buku, NYALA DALAM GELAP! Epik. Makanya, beli buku R. L. Stine yang ini pun semacam otomatis bagi saya waktu itu. Tapi ada satu hal yang bikin saya dari dulu enggan baca buku ini...

Thursday, November 28, 2013

Generasi 90an – Marchella FP

Dear Readers, I guess I am not going to review this book in English because this book really just talks about local things. It’s about what Indonesian kids used to do in 90s era. But, if any of you are somehow interested in reading the review of this book in English, just comment below or message me or whatever, let me know. Cheers.




FP, Marchella. 2013. Generasi 90an. Jakarta: PT Gramedia.
Rating 3,5 bintang

Generasi 90an

Kenapa saya baca buku ini?
Kebetulan, atau tidak kebetulan, saya termasuk di golongan generasi 90an. Saya lahir tepat di tahun 1990. Kalau enggak salah, penulis ini juga seumuran dengan saya. Jadi bisa dibilang, saya pastilah termasuk pasar utama dari buku ini. Sebelum beli Generasi 90an, sama seperti banyak orang lainnya, saya curi-curi baca dulu di toko buku. Setelah sekilas dilihat, saya suka. Suatu hari saya kesetanan beli buku, padahal uang lagi pas-pasan, eh tahu-tahu buku ini sudah masuk ke kantong belanjaan saya (penjelasan enggak mutu, hahaha). Saya baca buku ini dengan teliti, dibaca kata per kata, baru sekarang karena bertepatan dengan even bulanan Blogger Buku Indonesia (BBI), yaitu posting bareng. Untuk bulan ini, tema pertamanya adalah Grafis/Komik. Tema kedua, Horor/Thriller. Kalau mau lihat post dari BBI-ers lainnya, bisa kunjungi tautan ini. Nah, kenapa saya cuma kasih 3,5 bintang yah untuk buku ini?

Sunday, October 27, 2013

The Fault in Our Stars – John Green

Green, John. 2012. The Fault in Our Stars. New York: Dutton Books.
The Fault in Our Stars

Why I read this in the first place?

This is my first John Green’s. I actually surprised myself because I willingly read this book. It’s against my own reading policy, really. But, here’s the story behind it. I was surfing in Youtube and stumbled upon this video. This girl in the video talks about The Fault in Our Stars. She highly praises it and clearly states that she literally bawled her eyes out while reading the book. And, here’s me, a type of reader who doesn’t find utter attraction into tragic fiction stories, or books that are purposely written to made its readers cry it a river.

A little out of topic, I never really have a solid reason to explain my reading fondness.... I guess, for most part in me, I read as an escape. That’s why I prefer a story with happy-ending. I want to feel happy, so I read books, I want to entertain myself. Well, the world has already given enough tragedy, so why do I want to spare time to read tragic fiction, right? It’s different if it comes to tragic non-fiction. I could easily accept it as a reality or a figment of human history, because I know that reality is not always beautiful but needed to be faced strong-heartedly nonetheless. And that’s why I feel unthrilled to give chance to tragic fiction books.

So, why the heck did I read this insanely famous tearjerker book? Again, the fault is in that Youtube video. The girl says, after reading The Fault in Our Stars, there’s a song came up into his head, it’s Forever and Always by Parachute. Being me, I was more curious to hear that song than to read the book. So I googled the song. (Illegally) downloaded it. Found the lyric too. Listened to it with lyric on screen. Cried my heart out. Listened to it again. Still made me bawled. Listened to it one more time. I STILL EFFING CRIED! Seriously. Until you read this review, I still will cry whenever I hear that song. It’s painfully beautiful and tragic beyond anything. I like that song so much. And somehow it made me felt responsible to also read The Fault in Our Stars, although both (the song and the book) are completely unrelated.

The Fault in Our Stars – John Green


Green, John. 2012. The Fault in Our Stars. New York: Dutton Books.
Rating 3,5 bintang
(review in English, click here)

The Fault in Our Stars

Kenapa saya baca buku ini?
Buku John Green pertama saya. Saya juga heran kenapa saya mau-mau saja baca buku ini. Ini menyalahi aturan saya sendiri.... Jadi, waktu itu saya lagi nengok-nengok Youtube dan enggak sengaja sampai pada video ini. Dia mengulas The Fault in Our Stars. Komentarnya sangat positif tapi jelas-jelas dia bilang kalau dia menangis sepanjang buku ini. Dan, saya tipe pembaca yang enggak suka baca buku fiksi tragis, atau buku yang memang sengaja dibuat untuk bikin pembaca menangis.

Agak lepas dari topik, dipikir-pikir, sebenarnya saya enggak punya alasan yang solid sih kenapa saya membaca buku.... Sepertinya sebagian besar alasan saya membaca buku adalah sebagai pelarian. Makanya saya lebih suka buku happy-ending. Saya ingin cari senang, makanya saya baca buku. Yah, dunia yang sebenarnya sudah cukup tragis, jadi kenapa juga bahkan dalam dunia buku saya perlu cerita fiksi yang tragis? Kan? Memang beda halnya kalau saya membaca buku non-fiksi yang tragis. Saya bisa dengan mudah menerimanya sebagai kenyataan ataupun potongan sejarah karena memang kenyataan itu enggak selalu indah tapi harus tetap dihadapi dengan tabah. Makanya saya merasa enggak perlu menyediakan waktu untuk menghayati cerita fiksi yang tragis, karena itu toh bukan kenyataan.

Jadi, kenapa juga saya baca buku yang terkenal karena kesuksesannya membikin pembacanya pada menangis ini? Lagi, karena video Youtube yang saya tonton itu. Dia bilang, setelah membaca The Fault in Our Stars, dia terpikir tentang lagu Forever and Always-nya Parachute. Nah, saya malah lebih penasaran sama lagu itu. Jadi saya cari lagu itu. Download. Cari teksnya sekalian. Dengar lagunya sambil lihat teksnya. Nangis sesenggukan. Dengarin ulang. Tetap nangis. Coba dengar ulang lagi. MASIH BIKIN NANGIS! Serius. Sampai tulisan ini diturunkan, saya masih akan menangis kalau dengar lagu itu. Saya suka lagunya walaupun tragisnya enggak ketolongan. Jadi, saya merasa kayak semacam terbeban untuk baca The Fault in Our Stars karena saya begitu mengapresiasi lagu itu, walaupun sebenarnya keduanya (si buku dan si lagu) benar-benar enggak berhubungan.

Saturday, October 12, 2013

The Maze Runner Trilogy (Book 1-3) – James Dashner [SPOILER ALERT!]

Dashner, James. 2009, 2010, 2011. The Maze Runner, The Scorch Trials, The Death Cure. New York City: Delacorte Press.

WARNING! THIS ARTICLE (YOU MIGHT NOT SEE IT AS A REVIEW, IT’S MORE LIKE A REACTION) CONTAINS MAJOR SPOILER. IF YOU HAVEN’T READ THE MAZE RUNNER TRILOGY, I DON’T SUGGEST YOU TO CONTINUE READING THIS. UNLESS YOU ARE OKAY WITH SPOILER (JUST SO YOU AWARE, I'M GOING TO SPOIL EVERYTHING AND PROBABLY WON'T EXPLAIN BASIC DETAILS) OR YOU’VE ALREADY READ THE TRILOGY, PLEASE PROCEED.



What the...?

Yup! Three books in one article! In my review for this trilogy in Indonesian, I blabber about how I feel that something seems odd with the translated version. I give some examples like the use of words ‘shank’, ‘shuck-face’, ‘klunk’ and many others that are kind of weird when it’s translated into Indonesian. I just felt something was not suit there. I couldn’t really enjoy reading it while the story was actually captivated me. Before I realized why, my reading experience with this book was slow and I was distracted too easily. I even thought to buy the other two books, just so I have a complete trilogy, I even haven’t finish The Maze Runner when that thought came up to me. It’s like I was really trying to distract myself. And somehow, I got my hands on the e-book version for The Scorch Trials and The Death Cure, in English. I also got The Maze Runner e-book because I was curious to read it in its original language.

And... oh boy. I found out that Dashner uses ‘uncommon’ words and sentences in this trilogy. I actually like it, and I wouldn’t notice this fancy thing if I read the Indonesian translated version. Since I started to read the trilogy in English, I COULDN’T PUT IT DOWN. After I finished with The Maze Runner, I didn’t have it in me to sit still and patiently write the review for it. The freaking mysteries were killing me! So I just continued reading the rest of the trilogy. I purposely review it in one go in order to be more efficient, and it will be one long article (for my standard). So be it.

Tuesday, October 8, 2013

Trilogi The Maze Runner (Buku 1-3) – James Dashner [SPOILER ALERT!]

Dashner, James. 2009, 2010, 2011. The Maze Runner, The Scorch Trials, The Death Cure. New York City: Delacorte Press.
Rating 3 bintang
(review in English, click here)

TULISAN BERIKUT (AGAKNYA BUKAN ULASAN, HANYA SEBUAH REAKSI) MENGANDUNG SPOILER, YANG BELUM BACA TRILOGI INI TIDAK DIANJURKAN MEMBACA TULISAN INI. SILA LANJUT MEMBACA BAGI YANG TIDAK KEBERATAN AKAN SPOILER MAUPUN BAGI YANG SUDAH PERNAH MEMBACA TRILOGI INI.


Apa-apaan?

YAP! Tiga buku sekaligus! Pengalaman saya membaca trilogi ini agak berbelit-belit, jadi kalau enggak penasaran-penasaran banget, langsung loncat saja ke bagian selanjutnya. Jadi begini ceritanya, awalnya kan saya baca The Maze Runner terjemahan Bahasa Indonesia, saya bacanya memang entah kenapa jadi agak lambat dan lebih gampang enggak fokus, tapi tetap senang dan bahagia. Lama-lama, kok saya merasa ada yang enggak ‘klop’? Malahan, saya kepikiran ingin beli buku kedua sama ketiganya. Padahal yang buku pertamanya juga belum kelar. Akhirnya pilihan saya jatuh ke e-book buku kedua dan buku ketiga, dalam Bahasa Inggris. Sekalian juga saya coba baca e-book buku pertamanya karena saya ingin coba baca versi bahasa aslinya.

Ternyata oh ternyata... James Dashner memang bermain di kosa kata dan bentuk-bentuk kalimat yang tidak biasa, dan pembaca baru bisa benar-benar menikmati tulisan Dashner kalau membaca bukunya dalam bahasa aslinya. Misalnya penggunaan kata ‘shank’, ‘shuck-face’, ‘klunk’. Kemudian pola kalimat Dashner yang tidak biasa itu jadi hilang di versi terjemahannya, contoh, “just slim yourself nice and calm” diterjemahkan jadi “santai dan tenang sajalah”. Jadi kalimat yang biasa banget kan? Padahal di trilogi ini ceritanya para Glader punya cara ngomong yang unik.

Intinya, saya jadinya baca trilogi ini dalam bahasa aslinya dan benar-benar ENGGAK BISA LEPAS dari buku ini. Setelah selesai dengan The Maze Runner, saya enggak bisa langsung duduk manis menulis ulasannya, karena penasaran habis-habisan sama kelanjutan ceritanya. Jadi, ya sudah saya selesaikan dulu triloginya baru bikin ulasannya. Digabung saja biar efisien, tapi bakal jadi panjang banget nih ulasan. Biarlah.

Thursday, September 19, 2013

Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter - Indra Ismawan



Ismawan, Indra. 2003. Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter. Jakarta: GagasMedia.
 
Errr, Ismawan should considered a less hassle title...
Why I read it in the first place?
This book’s title, if I free translate it into English will be ‘The Success Story of J. K. Rowling: Behind The Writing Process of Harry Potter’. I bought this book long long time ago when I was a maniac for Harry Potter (I’m still kind of are). The Harry Potter series are, undoubtedly undebatedly, THE best children book EVER, although its reader is so beyond that. J. K. Rowling also became one of my obsession at that time, when I had Harry Potter fever (again, I’m still kind of are), so I smartly bought many biographies of her. Yes, many biographies. This book by Indra Ismawan is one of them. I re-read it because I’ll say byebye to it pretty soon (insert sad backsong). If you notice, I joined a bookblogger community recently, Blogger Buku Indonesia (BBI). There, I got myself in a book-swap deal with other fellow member, Roro. This will be my second book-swap I have ever experienced. My first was when I was an elementary kid, I swapped my Sailor Venus comics for Sailor Moon comics (cute, I know). Roro seemed desperately wished to own this book and was in an intense hunting for it, so I just offered mine. I thought, this book is better be in hands of those who really appreciate it. Because of that, I just felt the need to re-read it, you know, as a farewell ritual, and decided to make a rambling too about it. I read it in a hurry, finished it in one day, because I'm actually currently reading another book, Stephen Hawking’s, I paused that for reading and reviewing this book. 

Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter - Indra Ismawan

Ismawan, Indra. 2003. Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter. Jakarta: GagasMedia.
Rating 3 bintang
(review in English, click here)

Indra Ismawan harusnya pakai judul yang lebih singset...
Kenapa saya baca buku ini?
Buku ini saya beli saat saya sedang keranjingan-keranjingannya dengan Harry Potter. Seri Harry Potter sendiri tidak perlu didebatkan lagi, terbaik sepanjang masa untuk cerita anak, walaupun penikmatnya nyatanya mencakup semua usia. J. K. Rowling menjadi salah satu obsesi saya juga saat saya sedang demam Harry Potter, jadi saya banyak beli biografi dia. Ya, banyak. Buku ini salah satunya. Saya baca ulang buku ini karena sepertinya saya akan segera berpisah dengan buku ini (ugh sedih). Jadi kan saya baru bergabung di komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), dari situ saya berkesepakatan dengan salah satu anggotanya, Roro, untuk saling tukar buku. Ini pengalaman kedua saya tukaran buku, yang pertama waktu saya SD, tukaran komik Sailor Moon untuk komik Sailor Venus (hehe). Kebetulan Roro seperti sedang kebelet ingin punya buku ini, jadi saya tawarkan punya saya ini, karena saya merasa buku ini akan lebih baik jika berada di tangan yang benar-benar mengapresiasinya (wah melankolisnya). Pokoknya, karena merasa akan segera berpisah (kalau memang jadi nih tukarannya), saya merasa harus membaca ulang buku ini, sebagai tanda perpisahan, dan saya putuskan  untuk mengulasnya. Buru-buru saya tamatkan buku ini dalam sehari karena sebenarnya saya lagi membaca buku lain, Stephen Hawking-nya harus saya jeda dulu deh.

Thursday, September 12, 2013

Satin Merah – Brahmanto Anindito & Rie Yanti



Anindito, Brahmanto and Rie Yanti. 2010. Satin Merah. Jakarta: GagasMedia.

Nice cover. It goes well for the mood in the story.

Why I read it in the first place?
Honestly? Well, some days ago I went to a book store that was having their fourth anniversary celebration by discounting a massive amount of books. Mostly are books that I have no interest in. But then, my eyes caught something familiar, Satin Merah (Red Satin in English, but this book only available in Indonesian for now). The most amazing part was when I checked the price, it’s JUST Rp 10.000 (something like 1 US dollar!), the actual price was Rp 37.000. I have been eyeing Satin Merah since last year, it was in my will-buy-when-I-have-extra-money-but-I-know-it-won’t-happen list. There’s one thing that made me very curious with this book at first. On the back cover, it tells a glimpse of the story and I thought it was cool. Then there’s this endorsement from fellow Indonesian novelist, Feby Indirani, says, “A theme that’s mostly untouched by writers nowadays.” I never read Feby’s works so I didn’t know how I should feel about her comment. But heck, I already felt very challenged and I couldn’t care less who says what. I thought, “Oh, really?”

Wednesday, September 11, 2013

Satin Merah – Brahmanto Anindito & Rie Yanti



Anindito,Brahmanto dan Rie Yanti. 2010. Satin Merah. Jakarta: GagasMedia.
Rating 3,5 bintang
(review in English, click here)

Sampul novel Satin Merah yang sesuai dengan mood cerita.
Kenapa saya baca buku ini?
Jujur? Beberapa hari yang lalu saya ke toko buku yang lagi merayakan hari jadinya ke-4 dan mereka buat diskon besar untuk banyak banget buku. Kebanyakan buku yang enggak menarik minat saya. Kemudian tertangkap mata saya, Satin Merah. Yang paling wow-nya waktu lihat harganya Rp 10.000 SAJA (tanpa bermaksud sok kaya). Harga aslinya Rp 37.000. Satin Merah sudah sejak tahun lalu ada di daftar saya, daftar ingin-beli-tapi-pas-duit-lebih-saja. Dari awal tertarik untuk punya dan baca setelah lihat ulasan di sampul belakangnya. Tapi, hanya satu kalimat yang benar-benar bikin saya penasaran sekali, yaitu “Tema yang nyaris tak tersentuh oleh penulis zaman sekarang.” Itu ulasan pendukung untuk Satin Merah dari sesama novelis Indonesia, Feby Indirani. Saya belum pernah baca novel Feby, jadi enggak tahu apakah pendapatnya bisa jadi pegangan, tapi siapapun yang bilang enggak jadi masalah buat saya. Saya sudah terlanjur tertantang, “Ah, masa sebegitunya?”

Thursday, September 5, 2013

The Little Prince - Antoine de Saint-Exupery


Saint-Exupery, Antoine de. 2003. Pangeran Kecil. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Indonesian version, published in 2003.
Rating 3,5 stars
(review in Indonesian, click here)

Why I read it in the first place?
I don’t know exactly when I noticed this book as a legend. In fact, until now I’m still not sure enough. Anyway, when I was at the beginning of high school, I was a nerdy already back then, I heard a lot about The Little Prince from some literature I’ve read at that time. Somehow, it made me jumped on conclusion that The Little Prince is a legendary book, it means a book freak like me simply must have it, so I bought it. I started questioning its legendary when people around me, which I thought were readers like me, didn’t familiar with The Little Prince. And I even became more hesitate after I’ve tried to read it. I couldn’t understand the book, like AT ALL. So, yeah, The Little Prince has been on my book collection since a loooong time ago. I read it again recently, ten years later after the first time I read it. I guess I understand it now, and I’ll try to review it below. And I even had my answer right from Exupery himself which I failed to notice years ago, about why I’m able to understand it now, when I’m a 23 year-old girl.

Wednesday, September 4, 2013

The Little Prince (Pangeran Kecil) - Antoine de Saint-Exupery



Saint-Exupery, Antoine de. 2003. Pangeran Kecil. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Rating 3,5 bintang
(review in English, click here)
 
Buku versi Bahasa Indonesia terbit tahun 2003.
 
Kenapa saya baca buku ini? 
Enggak tahu sejak kapan tahu kalau buku ini cukup legendaris. Eh, sampai sekarang enggak tahu deh memang legendaris atau enggak. Pokoknya, kira-kira waktu saya SMP, saya memang sudah tukang baca, dan seingat saya buku Pangeran Kecil ini beberapa kali disebut di beberapa literatur yang saya baca waktu itu. Kesan yang saya dapat gara-gara hal tersebut, sepertinya buku Pangeran Kecil ini adalah buku legendaris (artinya kutu buku kayak saya wajib punya) dan saya pun pada akhirnya beli ini buku. Yang bikin ragu tentang kelegendarisan buku ini adalah, orang-orang di sekitar saya yang saya anggap pembaca kayak saya, enggak ada yang familiar dengan buku ini. Yang bikin makin ragu lagi adalah, setelah coba dibaca, saya enggak mengerti isinya, banget banget. Jadi, sudah lama sekali Pangeran Kecil bertengger di koleksi buku saya, dan baru sekarang, sepuluh tahun kemudian, saya bisa, kayaknya  sih, menangkap isi bukunya dan mengulasnya. Dan Exupery bahkan memberikan jawaban yang jelas, yang dulu enggak saya perhatikan, kenapa saya baru bisa mengerti bukunya sekarang, saat saya 23 tahun umurnya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...