Showing posts with label non-fiction. Show all posts
Showing posts with label non-fiction. Show all posts

Monday, June 1, 2015

Non-Fiction Recommendation!


Horeee video baru. Untuk kali ini saya tidak bikin May Wrap Up dan June TBR, karena di Mei ini saya cuma baca satu buku dan TBR saya sudah seperti deadline yang mengejar-ngejar saya. Jadi, gak ada dulu video wrap up dan TBR kali ini. Sebagai gantinya, saya mau rekomendasi buku-buku non-fiksi yang, menurut saya sih, bagus dan gampang dibaca. Ini diaaa...

Friday, January 30, 2015

The Naked Traveler Across the Indonesian Archipelago - Trinity + Secret Santa Post #2


Wuih, judulnya panjang.

Helloooo, Guys! Sudah lama sekali (sebulan, lebih tepatnya) saya nganggurin blog ini. Maaf. I just need some time apart from this blog. I need something new, or else I'll get bored and abandon this blog for even more time that I already did. Karena itulah, untuk review buku kali ini saya mencoba hal baru yang belum pernah saya coba.

Saya bikin video! Saya enggak pernah bikin video sebelumnya, jadi, ini yang pertama. Saya sadar banget akan pencahayaannya yang buruk, kualitas kameranya juga, suaranya juga... semuanya! Hahah. Maklumin saja lah yah. Tapi saya lumayan semangat gara-gara bikin video ini, bahkan... sebenarnya, saya sudah menyiapkan satu video lagi yang akan saya publish awal Februari. Hoyeee~

Tuesday, September 30, 2014

Creative Writing - A. S. Laksana

Laksana, A. S. 2013. Creative Writing. Jakarta: GagasMedia.
Rating 5 bintang


Creative Writing: Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel - Edisi Revisi

Seingat saya, saya belum pernah menyempatkan diri untuk membaca buku panduan menulis fiksi, jadi saya tidak bisa membandingkan buku ini dengan buku lain sejenis. Yang jelas, bagi saya buku ini sukses menyampaikan maksudnya dan benar-benar memberikan semangat untuk menulis dengan baik. Penjelasannya enggak bertele-tele, tepat sasaran, dan cukup dasar. Kualitas lima bintang banget!

Friday, May 23, 2014

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati - Wahyu Aditya


Aditya, Wahyu. 2013. Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati. Yogyakarta: Penerbit Bentang.
Rating 5 bintang
(review in English, click here)

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati

Saya adalah pembaca buku sejak saya bisa mengingat. Bahkan ada foto saya saat masih berumur sekitar 2 tahun, sedang duduk membaca buku, walaupun bukunya terbalik, tapi itu tetap petunjuk awal kan kalau saya bakal jadi kutu buku ke depannya? Saya rasa, adalah hal yang otomatis saat seorang kutu buku juga pada akhirnya ingin menulis buku. Saya pun begitu, tapi belum kesampaian. Dari saya SD, saya sering bikin cerita-cerita pendek yang kebanyakan enggak ber-ending, puisi-puisi garing, bahkan sampai skrip drama ngaco. Hampir semuanya tidak pernah dilihat mata lain selain mata saya. Beranjak dewasa, saya semakin tidak produktif untuk ‘berkarya’, walaupun keinginan untuk menulis cerita sendiri selalu ada, sampai sekarang. Seringnya, saya punya ketakutan-ketakutan yang membuat saya mengurungkan niat untuk menulis cerita sendiri, yang pada akhirnya menjadi alasan untuk tidak melakukannya sama sekali. Kemudian buku ini datang menampar saya dengan kata-kata lugas dan simpelnya.

Rasa takut adalah musuh besar dari kreativitas.

Tidak benar-benar terasa seperti ditampar sih, soalnya ini buku lucu banget. Dibawakan dengan santai sesantai-santainya oleh Wahyu Aditya alias Wadit, penulisnya. Banyak saran Wadit yang, walaupun bukan hal baru, tetap terasa segar dan cara penyampaiannya benar-benar baik.

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati - Wahyu Aditya


Aditya, Wahyu. 2013. Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati. Yogyakarta: Penerbit Bentang.

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati

I read since I can remember things. In fact, I have this photo of maybe 2-year old me, was sitting and reading a book, an upside-down book, but still, it’s like a sign that I will become a booknerd, right? I guess, booknerds always end up on wanting to write their own books. I do want to write my own book too, someday. In my elementary days, I used to write a bunch of short stories with no endings, a bundle of corny poems, and even some messy drama scripts. Almost all of them are never to be seen by other people’s eyes but mine. As I grew up, I became less and less productive in creating my ‘work’, although I always have it in my mind to write my own book, up until now. I have these fears and insecurities that make me hesitate and stop me from writing my own book. Then, this book came and slapped me with its to-the-point and simple words.

Fear is the biggest opponent of creativity.

Well, not really ‘slapped’, because this book is so so very very funny, I mean it in a kind way. The author, Wahyu Aditya a.k.a Wadit, delivers all his ideas in a hilarious informal way. There are lots of Wadit’s tips, although not earthshakingly new, still feel fresh and are told really well.

Wednesday, February 5, 2014

We Are All Weird – Seth Godin


Godin, Seth. 2011. We Are All Weird: Saatnya Menjadi Orang Aneh. Bandung: Penerbit Kaifa.
We Are All Weird (Saatnya Menjadi Orang Aneh)

Between normalcy and weirdness, there are mass and time period. That’s the whole point I got from We Are All Weird, and I think that’s one of the most interesting points from this book. The idea is refreshing and explained very well in the beginning of the book. Yes, the whole point is explained in the beginning. The social community where we are belong can be seen like a bell curve below,


The amount of people in the normal group (in the box) is bigger than the weirdo (outside the box). But, as time goes, the normal is getting less and less, they are stepping outside of the box and became weird eventually. There’s this time when slavery towards black people is perfectly normal, there’s this time when women with zero right to vote is normal, and further more in Indonesia there’s this time when mass people killing is considered heroic AND normal! (Have you seen The Act of Killing?) But again, the time flies, and some things considered as normal in the past is perspectively changing, and it will be very weird now if those things still exist. The point is, normalcy and weirdness are not absolute.

We Are All Weird: Saatnya Menjadi Orang Aneh – Seth Godin


Godin, Seth. 2011. We Are All Weird: Saatnya Menjadi Orang Aneh. Bandung: Penerbit Kaifa.
Rating 2 bintang
(review in English, click here)

We Are All Weird (Saatnya Menjadi Orang Aneh)

Antara normal dan yang tidak normal hanya dibatasi oleh jumlah massa dan lajur waktu. Itu ide utama yang saya dapat dari We Are All Weird, dan saya rasa itu yang paling menarik dari buku ini. Ide ini cukup mencerahkan saya karena dijelaskan dengan baik sekali di awal buku. Ya, ide utama buku ini dijelaskan di awal buku. Komunitas sosial tempat kita berada dapat digambarkan seperti ini...


Kelompok normal mempunyai jumlah yang lebih banyak dari orang aneh dan itu ditunjukkan pada bagian tengah di gambar di atas. Namun semakin waktu berjalan, yang normal semakin terpangkas, melebar ke samping, menjadi semakin aneh. Ada masanya di mana perbudakan orang kulit hitam dianggap normal, ada masanya di mana wanita yang tidak punya hak suara dalam pemilihan umum dianggap normal, bahkan di Indonesia ada masanya membunuhi orang secara massal dianggap tindakan pahlawan DAN normal! (Sudah nonton The Act of Killing?) Namun, seiring berjalannya waktu, yang tadinya dianggap normal mengalami perubahan hingga di saat sekarang akan dianggap benar-benar aneh jika masih berlaku. Intinya, kenormalan dan keanehan itu tidak mutlak.

Thursday, November 28, 2013

Generasi 90an – Marchella FP

Dear Readers, I guess I am not going to review this book in English because this book really just talks about local things. It’s about what Indonesian kids used to do in 90s era. But, if any of you are somehow interested in reading the review of this book in English, just comment below or message me or whatever, let me know. Cheers.




FP, Marchella. 2013. Generasi 90an. Jakarta: PT Gramedia.
Rating 3,5 bintang

Generasi 90an

Kenapa saya baca buku ini?
Kebetulan, atau tidak kebetulan, saya termasuk di golongan generasi 90an. Saya lahir tepat di tahun 1990. Kalau enggak salah, penulis ini juga seumuran dengan saya. Jadi bisa dibilang, saya pastilah termasuk pasar utama dari buku ini. Sebelum beli Generasi 90an, sama seperti banyak orang lainnya, saya curi-curi baca dulu di toko buku. Setelah sekilas dilihat, saya suka. Suatu hari saya kesetanan beli buku, padahal uang lagi pas-pasan, eh tahu-tahu buku ini sudah masuk ke kantong belanjaan saya (penjelasan enggak mutu, hahaha). Saya baca buku ini dengan teliti, dibaca kata per kata, baru sekarang karena bertepatan dengan even bulanan Blogger Buku Indonesia (BBI), yaitu posting bareng. Untuk bulan ini, tema pertamanya adalah Grafis/Komik. Tema kedua, Horor/Thriller. Kalau mau lihat post dari BBI-ers lainnya, bisa kunjungi tautan ini. Nah, kenapa saya cuma kasih 3,5 bintang yah untuk buku ini?

Friday, October 18, 2013

101 Creative Notes – Yoris Sebastian


Sebastian, Yoris. 2013. 101 Creative Notes. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

101 Creative Notes
Why I read it in the first place?
Well, it is a self-help book, so I did buy and read it in hoping to enrich myself with inspirational material. Once in a while, I like to urge myself to read non-fiction books. Actually, there was this time in my life when I kind of avoided reading fiction (what??? It’s true though). At that time, I was in a campus press in my uni, where I was demanded to know lots of facts and variety of information. And I obtained some of them in my objects of reading which were mostly non-fiction. Anyway, I was interested enough to buy 101 Creative Notes because of its simple and light writing style. I am not into a slow-pace and very-detailed self-help books. Before I read this book, I have no idea who Yoris Sebastian is. Clearly, I didn’t buy this book because of his popularity (which I was not aware of, but I guess he’s pretty popular, maybe?), I was purely interested with its theme about creativity.

Thursday, October 17, 2013

101 Creative Notes – Yoris Sebastian


Sebastian, Yoris. 2013. 101 Creative Notes. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Rating 2,5 bintang
(review in English, click here)

101 Creative Notes

Kenapa saya baca buku ini?

Ini kan buku yang tujuannya untuk pengembangan diri, jadi memang saya beli dan baca buku ini karena mau memperkaya diri sendiri saja dengan bahan bacaan inspiratif. Sekali-sekali saya memang suka baca buku non-fiksi. Eh, malah sebenarnya ada masa di mana saya benar-benar membatasi membaca buku fiksi. Waktu itu masih aktif di pers mahasiswa, secara enggak langsung saya dituntut untuk banyak tahu tentang fakta dan ragam informasi, yang sebagian saya dapatnya dari buku-buku non-fiksi. 101 Creative Notes ini saya pilih karena saya lihat format penulisannya yang ringan dan singkat. Karena pada dasarnya saya kurang suka juga sama buku self-help yang bertele-tele. Tapi, saya enggak tahu siapa tuh Yoris Sebastian sebelum baca buku ini. Jadi bukan karena dia (yang sepertinya orang hebat yah?) saya beli buku ini, memang cuma tertarik saja dengan tema bukunya.

Thursday, September 19, 2013

Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter - Indra Ismawan



Ismawan, Indra. 2003. Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter. Jakarta: GagasMedia.
 
Errr, Ismawan should considered a less hassle title...
Why I read it in the first place?
This book’s title, if I free translate it into English will be ‘The Success Story of J. K. Rowling: Behind The Writing Process of Harry Potter’. I bought this book long long time ago when I was a maniac for Harry Potter (I’m still kind of are). The Harry Potter series are, undoubtedly undebatedly, THE best children book EVER, although its reader is so beyond that. J. K. Rowling also became one of my obsession at that time, when I had Harry Potter fever (again, I’m still kind of are), so I smartly bought many biographies of her. Yes, many biographies. This book by Indra Ismawan is one of them. I re-read it because I’ll say byebye to it pretty soon (insert sad backsong). If you notice, I joined a bookblogger community recently, Blogger Buku Indonesia (BBI). There, I got myself in a book-swap deal with other fellow member, Roro. This will be my second book-swap I have ever experienced. My first was when I was an elementary kid, I swapped my Sailor Venus comics for Sailor Moon comics (cute, I know). Roro seemed desperately wished to own this book and was in an intense hunting for it, so I just offered mine. I thought, this book is better be in hands of those who really appreciate it. Because of that, I just felt the need to re-read it, you know, as a farewell ritual, and decided to make a rambling too about it. I read it in a hurry, finished it in one day, because I'm actually currently reading another book, Stephen Hawking’s, I paused that for reading and reviewing this book. 

Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter - Indra Ismawan

Ismawan, Indra. 2003. Kisah Sukses J. K. Rowling: Di Balik Proses Penulisan Harry Potter. Jakarta: GagasMedia.
Rating 3 bintang
(review in English, click here)

Indra Ismawan harusnya pakai judul yang lebih singset...
Kenapa saya baca buku ini?
Buku ini saya beli saat saya sedang keranjingan-keranjingannya dengan Harry Potter. Seri Harry Potter sendiri tidak perlu didebatkan lagi, terbaik sepanjang masa untuk cerita anak, walaupun penikmatnya nyatanya mencakup semua usia. J. K. Rowling menjadi salah satu obsesi saya juga saat saya sedang demam Harry Potter, jadi saya banyak beli biografi dia. Ya, banyak. Buku ini salah satunya. Saya baca ulang buku ini karena sepertinya saya akan segera berpisah dengan buku ini (ugh sedih). Jadi kan saya baru bergabung di komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI), dari situ saya berkesepakatan dengan salah satu anggotanya, Roro, untuk saling tukar buku. Ini pengalaman kedua saya tukaran buku, yang pertama waktu saya SD, tukaran komik Sailor Moon untuk komik Sailor Venus (hehe). Kebetulan Roro seperti sedang kebelet ingin punya buku ini, jadi saya tawarkan punya saya ini, karena saya merasa buku ini akan lebih baik jika berada di tangan yang benar-benar mengapresiasinya (wah melankolisnya). Pokoknya, karena merasa akan segera berpisah (kalau memang jadi nih tukarannya), saya merasa harus membaca ulang buku ini, sebagai tanda perpisahan, dan saya putuskan  untuk mengulasnya. Buru-buru saya tamatkan buku ini dalam sehari karena sebenarnya saya lagi membaca buku lain, Stephen Hawking-nya harus saya jeda dulu deh.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...