Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Friday, January 30, 2015

The Naked Traveler Across the Indonesian Archipelago - Trinity + Secret Santa Post #2


Wuih, judulnya panjang.

Helloooo, Guys! Sudah lama sekali (sebulan, lebih tepatnya) saya nganggurin blog ini. Maaf. I just need some time apart from this blog. I need something new, or else I'll get bored and abandon this blog for even more time that I already did. Karena itulah, untuk review buku kali ini saya mencoba hal baru yang belum pernah saya coba.

Saya bikin video! Saya enggak pernah bikin video sebelumnya, jadi, ini yang pertama. Saya sadar banget akan pencahayaannya yang buruk, kualitas kameranya juga, suaranya juga... semuanya! Hahah. Maklumin saja lah yah. Tapi saya lumayan semangat gara-gara bikin video ini, bahkan... sebenarnya, saya sudah menyiapkan satu video lagi yang akan saya publish awal Februari. Hoyeee~

Friday, May 23, 2014

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati - Wahyu Aditya


Aditya, Wahyu. 2013. Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati. Yogyakarta: Penerbit Bentang.
Rating 5 bintang
(review in English, click here)

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati

Saya adalah pembaca buku sejak saya bisa mengingat. Bahkan ada foto saya saat masih berumur sekitar 2 tahun, sedang duduk membaca buku, walaupun bukunya terbalik, tapi itu tetap petunjuk awal kan kalau saya bakal jadi kutu buku ke depannya? Saya rasa, adalah hal yang otomatis saat seorang kutu buku juga pada akhirnya ingin menulis buku. Saya pun begitu, tapi belum kesampaian. Dari saya SD, saya sering bikin cerita-cerita pendek yang kebanyakan enggak ber-ending, puisi-puisi garing, bahkan sampai skrip drama ngaco. Hampir semuanya tidak pernah dilihat mata lain selain mata saya. Beranjak dewasa, saya semakin tidak produktif untuk ‘berkarya’, walaupun keinginan untuk menulis cerita sendiri selalu ada, sampai sekarang. Seringnya, saya punya ketakutan-ketakutan yang membuat saya mengurungkan niat untuk menulis cerita sendiri, yang pada akhirnya menjadi alasan untuk tidak melakukannya sama sekali. Kemudian buku ini datang menampar saya dengan kata-kata lugas dan simpelnya.

Rasa takut adalah musuh besar dari kreativitas.

Tidak benar-benar terasa seperti ditampar sih, soalnya ini buku lucu banget. Dibawakan dengan santai sesantai-santainya oleh Wahyu Aditya alias Wadit, penulisnya. Banyak saran Wadit yang, walaupun bukan hal baru, tetap terasa segar dan cara penyampaiannya benar-benar baik.

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati - Wahyu Aditya


Aditya, Wahyu. 2013. Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati. Yogyakarta: Penerbit Bentang.

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati

I read since I can remember things. In fact, I have this photo of maybe 2-year old me, was sitting and reading a book, an upside-down book, but still, it’s like a sign that I will become a booknerd, right? I guess, booknerds always end up on wanting to write their own books. I do want to write my own book too, someday. In my elementary days, I used to write a bunch of short stories with no endings, a bundle of corny poems, and even some messy drama scripts. Almost all of them are never to be seen by other people’s eyes but mine. As I grew up, I became less and less productive in creating my ‘work’, although I always have it in my mind to write my own book, up until now. I have these fears and insecurities that make me hesitate and stop me from writing my own book. Then, this book came and slapped me with its to-the-point and simple words.

Fear is the biggest opponent of creativity.

Well, not really ‘slapped’, because this book is so so very very funny, I mean it in a kind way. The author, Wahyu Aditya a.k.a Wadit, delivers all his ideas in a hilarious informal way. There are lots of Wadit’s tips, although not earthshakingly new, still feel fresh and are told really well.

Wednesday, February 5, 2014

We Are All Weird – Seth Godin


Godin, Seth. 2011. We Are All Weird: Saatnya Menjadi Orang Aneh. Bandung: Penerbit Kaifa.
We Are All Weird (Saatnya Menjadi Orang Aneh)

Between normalcy and weirdness, there are mass and time period. That’s the whole point I got from We Are All Weird, and I think that’s one of the most interesting points from this book. The idea is refreshing and explained very well in the beginning of the book. Yes, the whole point is explained in the beginning. The social community where we are belong can be seen like a bell curve below,


The amount of people in the normal group (in the box) is bigger than the weirdo (outside the box). But, as time goes, the normal is getting less and less, they are stepping outside of the box and became weird eventually. There’s this time when slavery towards black people is perfectly normal, there’s this time when women with zero right to vote is normal, and further more in Indonesia there’s this time when mass people killing is considered heroic AND normal! (Have you seen The Act of Killing?) But again, the time flies, and some things considered as normal in the past is perspectively changing, and it will be very weird now if those things still exist. The point is, normalcy and weirdness are not absolute.

We Are All Weird: Saatnya Menjadi Orang Aneh – Seth Godin


Godin, Seth. 2011. We Are All Weird: Saatnya Menjadi Orang Aneh. Bandung: Penerbit Kaifa.
Rating 2 bintang
(review in English, click here)

We Are All Weird (Saatnya Menjadi Orang Aneh)

Antara normal dan yang tidak normal hanya dibatasi oleh jumlah massa dan lajur waktu. Itu ide utama yang saya dapat dari We Are All Weird, dan saya rasa itu yang paling menarik dari buku ini. Ide ini cukup mencerahkan saya karena dijelaskan dengan baik sekali di awal buku. Ya, ide utama buku ini dijelaskan di awal buku. Komunitas sosial tempat kita berada dapat digambarkan seperti ini...


Kelompok normal mempunyai jumlah yang lebih banyak dari orang aneh dan itu ditunjukkan pada bagian tengah di gambar di atas. Namun semakin waktu berjalan, yang normal semakin terpangkas, melebar ke samping, menjadi semakin aneh. Ada masanya di mana perbudakan orang kulit hitam dianggap normal, ada masanya di mana wanita yang tidak punya hak suara dalam pemilihan umum dianggap normal, bahkan di Indonesia ada masanya membunuhi orang secara massal dianggap tindakan pahlawan DAN normal! (Sudah nonton The Act of Killing?) Namun, seiring berjalannya waktu, yang tadinya dianggap normal mengalami perubahan hingga di saat sekarang akan dianggap benar-benar aneh jika masih berlaku. Intinya, kenormalan dan keanehan itu tidak mutlak.

Thursday, January 16, 2014

Taman Api – Yonathan Rahardjo


Rahardjo, Yonathan. 2011. Taman Api. Jakarta: Pustaka Alvabet.

Thank you, Pustaka Alvabet, for giving me this book in exchange for honest review.

Taman Api

We live in a world where being normal is to be attracted toward opposite sex. So, generally any human being who is attracted toward the same sex, known as gay, is considered as abnormal. ‘Normal’ is a situation that is usual compared to most others. In that case, those who are attracted to the same sex are unusual and considered as abnormal. But, what if the normal situation is the contrary from what happened now. What if being normal is when people attracted to the same sex, and those who are attracted to the opposite sex are forced to ‘repent’ and must to be attracted to the same sex. Well? Kind of nauseating, isn’t it? Perhaps that’s what gay people feel all this long. Moreover, how does it feel for those who choose the ‘rougher’ path by becoming gender benders or transsexuals? What are their stories?

Saturday, January 11, 2014

Taman Api – Yonathan Rahardjo


Rahardjo, Yonathan. 2011. Taman Api. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Rating 2,5 bintang
(review in English, click here)

Terima kasih kepada Pustaka Alvabet yang telah memberikan saya buku ini sebagai ganti ulasan yang jujur.

Taman Api

Orang yang mengajak kenalan lewat sms biasanya tidak saya waro (Sunda: pedulikan, memberi perhatian).

Tapi, karena beberapa hari yang lalu saya masih sedang membaca novel ini, saya jadi iseng.
Dia: Mlem.. ?
Saya: ya?
D: Blh knln nich.?
S: ini siapa?
D: Sya deni,lw situ cpa namanya..
S: kalo malem namaku bintang kejora, kalo siang jadi abdullah.
D: Ouh gitu,kalo pg,
S: kalo pagi panggil apa aja boleh. kamu waria juga? dapet nomor aku drmana? pasti dari si flora yah.
D: Astagfiruloh mit amit dech..
S: kenapa den?
D: Gk...
S: dapet nomorku drmana den? kamu mau pesen servis?
D: Sory ya gwe msh normal gk jd dech.

Thursday, November 28, 2013

Generasi 90an – Marchella FP

Dear Readers, I guess I am not going to review this book in English because this book really just talks about local things. It’s about what Indonesian kids used to do in 90s era. But, if any of you are somehow interested in reading the review of this book in English, just comment below or message me or whatever, let me know. Cheers.




FP, Marchella. 2013. Generasi 90an. Jakarta: PT Gramedia.
Rating 3,5 bintang

Generasi 90an

Kenapa saya baca buku ini?
Kebetulan, atau tidak kebetulan, saya termasuk di golongan generasi 90an. Saya lahir tepat di tahun 1990. Kalau enggak salah, penulis ini juga seumuran dengan saya. Jadi bisa dibilang, saya pastilah termasuk pasar utama dari buku ini. Sebelum beli Generasi 90an, sama seperti banyak orang lainnya, saya curi-curi baca dulu di toko buku. Setelah sekilas dilihat, saya suka. Suatu hari saya kesetanan beli buku, padahal uang lagi pas-pasan, eh tahu-tahu buku ini sudah masuk ke kantong belanjaan saya (penjelasan enggak mutu, hahaha). Saya baca buku ini dengan teliti, dibaca kata per kata, baru sekarang karena bertepatan dengan even bulanan Blogger Buku Indonesia (BBI), yaitu posting bareng. Untuk bulan ini, tema pertamanya adalah Grafis/Komik. Tema kedua, Horor/Thriller. Kalau mau lihat post dari BBI-ers lainnya, bisa kunjungi tautan ini. Nah, kenapa saya cuma kasih 3,5 bintang yah untuk buku ini?

Friday, October 18, 2013

101 Creative Notes – Yoris Sebastian


Sebastian, Yoris. 2013. 101 Creative Notes. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

101 Creative Notes
Why I read it in the first place?
Well, it is a self-help book, so I did buy and read it in hoping to enrich myself with inspirational material. Once in a while, I like to urge myself to read non-fiction books. Actually, there was this time in my life when I kind of avoided reading fiction (what??? It’s true though). At that time, I was in a campus press in my uni, where I was demanded to know lots of facts and variety of information. And I obtained some of them in my objects of reading which were mostly non-fiction. Anyway, I was interested enough to buy 101 Creative Notes because of its simple and light writing style. I am not into a slow-pace and very-detailed self-help books. Before I read this book, I have no idea who Yoris Sebastian is. Clearly, I didn’t buy this book because of his popularity (which I was not aware of, but I guess he’s pretty popular, maybe?), I was purely interested with its theme about creativity.

Thursday, October 17, 2013

101 Creative Notes – Yoris Sebastian


Sebastian, Yoris. 2013. 101 Creative Notes. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Rating 2,5 bintang
(review in English, click here)

101 Creative Notes

Kenapa saya baca buku ini?

Ini kan buku yang tujuannya untuk pengembangan diri, jadi memang saya beli dan baca buku ini karena mau memperkaya diri sendiri saja dengan bahan bacaan inspiratif. Sekali-sekali saya memang suka baca buku non-fiksi. Eh, malah sebenarnya ada masa di mana saya benar-benar membatasi membaca buku fiksi. Waktu itu masih aktif di pers mahasiswa, secara enggak langsung saya dituntut untuk banyak tahu tentang fakta dan ragam informasi, yang sebagian saya dapatnya dari buku-buku non-fiksi. 101 Creative Notes ini saya pilih karena saya lihat format penulisannya yang ringan dan singkat. Karena pada dasarnya saya kurang suka juga sama buku self-help yang bertele-tele. Tapi, saya enggak tahu siapa tuh Yoris Sebastian sebelum baca buku ini. Jadi bukan karena dia (yang sepertinya orang hebat yah?) saya beli buku ini, memang cuma tertarik saja dengan tema bukunya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...