Anak perempuan ini tumbuh
di keluarga yang hampir tidak pernah ke gereja. Makanya dia tidak pernah
merasakan yang namanya sekolah minggu. Dia pernah bertanya kepada orang tuanya,
alasannya adalah karena gereja terdekat butuh dua jam perjalanan dan
keluarganya tidak punya kendaraan pribadi. Memang, kabarnya usaha pembangunan
gereja di Cilegon selalu gagal. Katanya digagalkan oleh orang-orang fanatik
khas Banten. Jadi gereja tidak ada di kota kecil macam Cilegon, cuma ada di
ibukota, Serang. Dengan otak polosnya, anak itu menganggap alasan itu sudah
cukup. Terlalu repot cuma untuk ke gereja saja. Lagian ayahnya bilang, “Tuhan
kan ada dimana-mana. Bentuk ibadah bukan cuma kumpul-kumpul di gereja saja.”
Awalnya dia tidak merasa
ada yang salah dengan hal itu. Anak perempuan ini disekolahkan di sekolah milik
yayasan Katolik. Dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama
dihabiskan di sekolah yayasan tersebut. Pelajaran agama yang diwajibkan adalah
agama Katolik. Walaupun secara teknis anak perempuan ini beragama Kristen
Protestan, dia tidak begitu tahu dan tidak peduli juga kalau ternyata kedua
agama ini berbeda. Kemudian datanglah waktunya ujian praktik agama untuk lulus
EBTANAS sekolah dasar.